oleh

Nona Berdarah Sabu, yang Rajin Sembahyang

NAMANYA Mia Tresetyani Wadu, 22 tahun usia. Masih sangat muda, untuk pergi meninggalkan dunia ini. Namun apa yang mau dikata, gadis berdarah Sabu (NTT) dan Bali ini, ikut jadi korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta – Pontianak jatuh di Laut kepulauan Pulau Seribu pada Sabtu (9/1/2021) lalu.

Saat kupangterkini.com mendatangi rumah Zet Wadu dan Ni Luh Sudarmi, di Jln Tukad Gangga, Renon, Denpasar Rabu (13/1/21) telihat sedang ada ibadah yang dipimpin pendeta dari Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB). Keluarga Zet tercatat sebagai jemaat GPIB Maranatha, Denpasar. Bahkan, anak lelakinya Ardi Samuel Cornelis, yang juga kakak kandung Mia, saat ini menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) di gereja itu.

Sudah sejak Minggu (10/1) bila menjelang malam tiba, keluarga Zet mendapat pelayanan iman dari pihak gereja. Secara bergantian seorang pendeta, hadir membawakan firman Tuhan dan berdoa bersama keluarga yang hadir di tempat itu. Kemarin giliran Pdt (Emiritus) Ny Josye A Nikijuluw Saimima, STh, yang memimpin ibadah penguatan iman bagi keluarga dan sanak saudara.

Kini hanya satu harapan keluarga Zet Wadu, jasad anak perempuan satu-satunya itu, segera teridentifikasi diantara seratusan kantong jenazah yang telah diterima tim Disaster Victim Identification (DVI) Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta. Pihak keluarga telah berencana jazad gadis periang itu disemayamkan di Bali, tanah kelahiran ibunya.

‘’Semoga diantara 136 kantong jenazah itu salahnya ada jazad Mia. Biar bisa segera diambil kakaknya dan disemayamkan di sini (Bali),’’ ucap Zet lirih.

Di tengah kegetiran hatinya Zet masih sempat menyampaikan terimakasih tak terhingga kepada pihak maskapai dan Polda Bali. Sebab, sehari sebelumnya tim DVI dan perwailan Sriwijaya Air yang telah memudahkan keluarga itu dengan mengambil sampel DNA di rumah.

Baca Juga :   Peti Sudah Disegel, Tak Boleh Dibuka Lagi

Termasuk pendampingan psikologi dari Polda, yang sudah dimulai sejak Senin 11/1) lalu.

Memberikan dukungan secara periodik untuk memastikan kondisi keluarga baik secara fisik dan psikis. Sebab, saat berduka atau kehilangan, beberapa kondisi akan terjadi seperti kesedihan, kecemasan dan sulit tidur.

Saat diminta bercerita, lelaki kelahiran Sabu 59 tahun lalu ini mengungkapkan. Jadi Pramugari adalah cita-cita Mia sejak kecil. Meski kedua orang tuanya semula agak keberatananaknya mengeluti profei itu namun mereka dipaksa luluhmengikuti keinginan dara alumnus SMA 6 Sanur itu.

Mia menurut, sang ayahanda, tak pernah mengantongi nilai merah sejak bersekolah di SDN 1 Niti Mandala Renon. Begitu juga saat melanjutkan ke SMPN 9 Sanur. Sejak kecil sudah rajin belajar dan tak pernah absen mengikuti peribadatan baik di rumah maupun di gereja.

‘’Tiga tahun lalu saat Mia mendaftar jadi pramugari sebagai ayah saya sangat berat mengizinkan. Sayang, itu pilihannya,” beber Zet

Lantaran pekerjaan itu sangat disukai sang anak, Zet pun tak kuasa melarang atau membatalkannya. Sebelumnya, Zet sudah memberikan banyak pesan terkait sejumlah cobaan jadi pramugari. Namun pesan sang ayah itu dibalas dengan bahasa yang menyejukan hati kedua orang tua dan keluarga lainnya.

“Ya, saya baca berita dulu bahwa pramugari sering ke tempat hiburan malam jika pesawat sudah mendarat di suatu kota. Takutnya Mia ikut ke diskotek ketika diajak teman-teman, sebab di dunia malam rentan dengan orang jahat, pria hidung belang, juga narkoba dan alkohol. Seperti itu pesan saya,” jelas Zet.

Terhadap semua kekuatiran itu dijawab Mia dengan suara yang optimis. Bahwa dirinya selalu memegang kehormatan keluarga. “Pa, Mia tidak akan terjerumus ke dunia itu. Dan hal itu sama sekali tidak ada dibenak Mia. Sebab Mia sangat takut dengan Tuhan. Saya anak Tuhan Pa,’’ Zet mengutip lagi jawaban Mia kepadanya tiga tahun silam.

Baca Juga :   Jenazah Nona Sabu, Disambut Tangisan Keluarga

Sambil berlinang air mata, Zet memaparkan, Mia beberapa kali telepon ibunya dan minta didoakan. Kenapa begitu? Sebab, sering pesawat mendarat hari Minggu sehingga tidak sempat mengikuti kebaktian. “Kalau tidak sempat ke gereja karena tuntutan kerja, Mia menangis. Ia memilih telepon ibunya untuk sembahyang bersama via telepon. Anak saya itu baik hati, rajin sembahyang, tempat anak saya di Surga. Tempatmu disurga nak,” ujat Zet dengan nada getir. (shitri sulla)

Komentar