oleh

Stunting Suatu Potret Kemiskinan

HARGANAS adalah singkatan dari Hari Keluarga Nasional, diperingati pada 29 Juni setiap tahun di tanah air Indonesia. Memperingati HARGANAS ke-29 yang jatuh pada 29 Juni 2022, pemerintah menetapkan tema peringatan yaitu “Ayo Cegah Stunting agar Keluarga Bebas Stunting”. Lalu, apa itu stunting?

Stunting adalah salah satu kosakata bahasa Inggris yang artinya”kekerdilan” berasal dari kata dasar stunt atau kerdil. WHO atau badan kesehatan dunia, mengggunakan kosakata stunting bagi kasus kekerdilan yang terjadi di seantero dunia. Para ahli kesehatan dunia mendefenisikan stunting sebagai: “masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni kondisi badan anak menjadi kerdil.”

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang masih harus bekerja keras menurunkan angka prevalensi stunting. Hasil Survay Status Gizi Indonesia(SSGI) menunjukan angka prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24,4%, sedangkan pada tahun 2018 tercatat 30,8% .Ini adalah angka cukup tinggi bagi Indonesia sebagai negara merdeka yang lagi membangun.Ukuran standar angka prevalensi stunting yang ditetapkan WHO adalah tidak melebihi 20%.

Pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting di Indonesia, paling tidak sampai akhir tahun 2024 akan mencapai angka dibawah 20% yaitu sekitar 14%.
Kondisi Stunting di Indonesia tidak lepas dari kondisi kesehatan bayi dan anak balita yang terjadi di wilayah provinsi. Tercatat 10 provinsi sebagai penyumbang angka tinggi stunting di tanah air yaitu, urutan pertama adalah provinsi NTT, disusul Sulawesi Barat, NTB, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

Hasil survey SSGI mengungkapkan 15 Kabupaten di NTT berstatus “merah” yaitu memiliki angka prevalensi stunting di atas 46 % sementara 6 kabupaten dan satu kota yaitu Kota Kupang berstatus kuning dengan prevalensi 20-30 %. Tidak ada satupun daerah di NTT yang berstatus hijau, artinya yang berprevalensi stunting antara 10-20 % apalagi berstatus biru yaitu memiliki angka prevalensi stunting dibawah 10 persen. Kecamatan Alak –Kota Kupang memiliki angka prevalensi stunting tertinggi yaitu di atas seribuan (2018), sedangkan Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah salah satu kabupaten di NTT malah di Indonesia yang memiliki angka prevalensi stunting tertinggi yaitu 48,3%.

Menurut data Pemerintah Kabupaten TTS pada 2020 terdapat sekitar 37 ribu lebih penduduk berstatus miskin ekstrim dari total penduduk TTS 455 ribu lebih jiwa. Seperti diketahui dua wilayah di NTT dengan jumlah penduduk di atas empat ratus ribuan adalah TTS dan Kota Kupang.

Kasus stunting merupakan salah satu pekerjaan rumah Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahannya menjelang masa akhir jabatan tahun 2024. Berkaitan dengan hal ini, Presiden Jokowi pada bulan Maret 2022 telah melakukan kunjungan kerja di Kabuapten TTS didampingi Kepala BKKBN pusat Hasto Wardoyo, sudah tentu perhatian diberikan kepada masalah prevalensi stunting tertinggi di kabupaten ini.

Masalah stunting tidak saja bersumber dari masalah kesehatan itu sendiri tetapi seringkali berakar dari fakor-faktor di luar kesehatan. Demikian diungkapkan oleh mantan Menteri kesehatan Nila Moeloek.Masalah ekonomi, sosial,budaya, pendidikan,pertanian dan kemiskinan adalah faktor penyebab stunting.Menurut Nila Moeloek, masalah stunting di pengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan, baik dari segi jumlah maupun kualitas gizi, ditambah lagi dengan pola asuh bayi dan balita yang kurang baik terutama praktek pemberian makanan bagi bayi dan balita. Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua(ibu).

Masalah stunting jarang menjadi topik pembicaraan baik dikalangan perpolitikan maupun interaksi masyarakat sehari-hari. Namun demikian stunting merupakan salah satu penghambat kemajuan bangsa ditinjau dari segi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Demikian Pramono Anung Sekretaris Kabinet dalam menyambut Peringatan HARGANAS tahun ini. Keluarga merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.Keluarga bahagia akan melahirkan bangsa bahagia, keluarga sejahtera akan melahirkan bangsa yang sejahtera pula,ujar Pramono Anung.

Merupakan suatu keniscayaan, bahwa masalah stunting harus ditangani secara holistic,terpadu antara semua sumber daya pembangunan yang dimiliki pemerintah dan masyarakat. Karena jelas sekali bahwa stunting merupakan resultante dari sekian banyak keterbelakangan yang terjadi diwilayah pedesaan dan wilayah terpencil lainnya di tanahair.Suatu kenyataan yang sangat memprihatikan kalau di kabupten TTS-NTT terdapat puluhan ribu orang yang berstatus “miskin ekstrim”, yang berujung pada tingginya angka prevalensi stunting di daerah itu, dua kali lebih tinggi dari standar WHO. Memang benar…Stunting Suatu Potret Kemiskinan. ***

Tulisan : paul amalo

Baca Juga :   Bantuan Rendang Minang Bagi Warga Terdampak Bencana
Baca Juga :   Nona Berdarah Sabu, yang Rajin Sembahyang

Komentar