oleh

Gunakan Mikroba Beneficial Sebagai Sahabat Manusia

ISTILAH pupuk fermentasi baru saja dikenal, yakni sesudah pemerintahan presiden kedua Indonesia, malah jauh sesudah itu. Berabad-abad lamanya nenek moyang kita telah mengenal tape, terasi, tempe, ikan asin bahkan membuat dodol, apem jajan lainnya, rujak dan manisan, bukanlah itu semua hasil fermentasi? Kita baru saja menggunakan pupuk fermentasi, semakin lama saya berharap penggunaannya semakin bermasyarakat dan bahkan semoga akan menjadi regulasi satu-satunya bangsa ini.

Bila kita ingin ke pertanian organik, hendaknya import pupuk kimia, pestisida kimia, fungisida dan hormun kimia di pertanian dihentikan. Selain karena mahal juga berdampak buruk terhadap makanan dan lingkungan toh dapat digantikan oleh bahan-bahan yang serba organik seperti pupuk fementasi, pestisida nabati, bio urin, fermented plant eksrak (FPE), EM5, bakteri dan jamur antagonis seperti Trichoderma, Biocladium, Mikoriza, Biveria basiana, asap cair dan semua hasil hasil lainnya yang merupakan temuan dari laboratorium hayati yang jauh lebih murah dan aman digunakan dari bahan-bahan konfensional.

Saya pencinta lingkungan, lebih jelasnya lagi saya adalah group EM yang menggunakan kekuatan alam dalam bertani. Seperti contoh pada beberapa tulisan saya yang lalu bahwa tidak mungkin tanpa sinar matahari, hijau daun itu dapat membuat karbohidrat yang merupakan sumber makanan pertama dan utama dari semua mahluk hidup.

Kali ini kita menggunakan mikroba yang beneficial sebagai sahabat manusia, memfermentasi bahan sisa organik menjadi sarana pertanian. Ternyata mikroba mempunyai sifat regenerasi yang luar biasa, baik terhadap mahluk hidup maupun terhadap benda mati dalam memperpanjang life time. Bukankah itu merupakan target hidup manusia?

Saya juga sedikit mengerti tentang perubahan. Siapapun tidak dapat menghindar dari perubahan itu. Kalau dulu dikenal istilah pasteurisasi yang berarti di atas suhu 100 derajat Celcius dianggap steril, sekarang telah dibuktikan bahwa mikroba dapat hidup pada lahar gunung meletus di dasar laut, sampai di daerah kutub, didalam dan di luar kulit bumi, di dalam dan di luar tubuh manusia. Bahkan dapat hidup pada pH yang rendah sampai tinggi, kadar gula rendah sampai tinggi, suhu rendah sampai tinggi dan dapat hidup di mana-mana.

Baca Juga :   Sergey Sobyanin Umumkan Peluncuran Proyek Digital Tutor

Ucapan ini seolah-olah menyamakan mikroba dengan Tuhan, tapi mikroba pasti bukan Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menghidupi mikroba tersebut. Inilah yang saya maksud dengan ilmu mikroba yang menjembatani antara dunia nyata dengan yang tidak nyata. Dapat juga dikatakan sebuah karya ilmiah tingkat tinggi.

Kalau dulu ada anggapan bahwa bakteri dan jamur adalah baksil penyakit, sekarang telah dibuktikan bahwa beberapa jenis jasad renik itu dapat merupakan sahabat manusia, dan musuh manusia. Ada juga yang netral.

Bahkan menurut penelitian beberapa strain bakteri dapat merubah sifat-sifat mikoba lainnya dari pathogenik menjadi netral, dari netral menjadi berguna. Sebaliknya dari yang netral menjadi pathogenik. Beberapa strain dapat menghasilkan gelombang elektro magnetik, sinar infra red dan lain-lain. Pada titik ini dapat disimpulkan bahwa alam semesta ini tidak mengenal batas.

Teknologi EM temuan Prof Higa menggunakan 5 kelompok mikroba yang terdiri dari 80 spesies bahkan lebih, di antaranya kelompok bakteri Fotosynthesa, Laktobacillus, Jamur fermentasi, Actino mycetes dan Ragi. Beberapa hasil reaksi fermentasinya dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama: Bakteri Fotosynthesa. Bakteri ini merupakan inti kekuatan EM, mensitesekan H2S, methan, merkaptan, amoniak dan semua senyawa yang berbahaya menjadi gas-gas yang tidak berbau serta tidak berbahaya dan menghasilkan antioksidan. Ia juga dapat mengikat N dari udara, menghasilkan zat-zat bioaktif, asam amino, gula, asam nukleat yang digunakan kembali oleh bakteri lainnya seperti Actinomycetes.

Kedua: Bakteri Asam Laktat. Sesuai namanya ia menghasilkan asam laktat. Asam laktat inilah yang menekan pertumbuhan pathogen serta memfermentasi bahan organik.

Ketiga: Actino mycetes. Bakteri ini banyak terdapat pada kompos, bahkan berlimpah pada tanah-tanah Zimogenik. Bakteri ini mendekomposisi semua bahan organik termasuk yang keras-keras. Kehidupannya selalu berdampingan dengan bakteri Fotosynthesa.
Keempat: Ragi. Bakteri ini merupakan anti bakteri, memfermentasi bahan organik, menghasilkan vitamin asam amino, zat-zat bioaktif lainnya seperti hormone, enzim yang dapat merangsang pertumbuhan.

Baca Juga :   Jokowi dan Keamanan Ontologis

Kelima: Jamur Fermentasi. Memfermentasi bahan organik, menghasilkan alcohol, ester dan merupakan anti bakteri. Kelima kelompok bakteri ini jelas merupakan sahabat manusia. Pergunakanlah EM itu di semua aspek kehidupan. Semoga Tuhan selalu bersama kita.

tulisan : Ir. I Gusti Ketut Riksa

Komentar