oleh

Beri Ayat Kitab Suci, Persis Sama Ketika Ajal Menjemput

ADA cerita baru yang diungkapkan, Zet Wadu, saat persembahyangan 40 hari kepergian mendiang Mia Tresetyani Wadu, Rabu (17/2/21) sore. Sang ayah, jauh sebelum jatuhnya pesawat Sriwijaya Air 182, pernah kirimi ayat Alkitab yang sama persis dengan waktu dimana anaknya itu kehilangan nyawa.

‘’Anak saya (Mia) sangat taat dan takut akan Tuhan. Rajin sembahyang dan membaca Alkitab. Ada satu ayat yang diberikan kepada saya dan mungkin hadiah terakhir untuk saya,’’ ungkap Zet Wadu kepada kupangterkini.com.

Awalnya dia tak begitu peduli dan membaca biasa saja. Baru tersadar ketika anak gadis satu satunya itu pergi untuk selamanya. Zet membuka lagi ayat itu, menandai dan membaca berulang-ulang serta merenungi makna yang terkandung dalamnya.

Kitab Mazmur 119 ayat 109, ‘’Aku selalu mempertaruhkan nyawaku, namun Taurat-Mu tidak kulupakan.’’ Kalimat inilah yang dikirimi sang anak buat Zet, yang awalnya tidak terlalu mempedulikannya. Sementara pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, itu terbalik angkanya, 9 Januari.

“Ayat ini selalu saya baca berulang kali dan selalu sedih jika mengingat Mia. Akan selalu saya ingat dalam seumur hidup’’ tambahnya.

Adek – begitu panggilan sayang keluarga kepada mendiang – sangat dekat dengan ibu dan ayah serta kakak lelakinya. Bila menelpon selalu mengingatkan kepada sang ayah untuk menjaga kesehatan dan tak dibolehkan mengkonsumsi sambal.

‘’Setelah 40 hari berlalu cukup berat bagi kami sekeluarga. Setiap hari selalu teringat dan masih terngiang dipikiran saya. Namun perlahan-lahan kami sekeluarga harus mengikhlaskan,’’ tambah lelaki berdarah Sabu, NTT itu.

Sang kakak, Ardi Samuel Cornelis mengungkapkan, kepergian Adek menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga ini. ‘’Mama setiap jam empat pagi selalu terbangun dan menangis di depan foto Adek. Kalau bapak lebih banyak keluar mencari kesibukan, mungkin agar tidak terlalu kepikiran dengan kejadian ini,’’ jelas Ardi.

Baca Juga :   Temannya Terus Mengirimi Bunga ke Pusara

Hingga kepergian Adek, masih ada yang mengganjal dihatinya. Memenuhi keinginan membelikan camera bagi sang adik. ‘’Saya belum bisa mengabulkan permintaan Adek. Dia minta dibelikan sebuah kamera,’’ kata Ardi yang sudah kehilangan sosok manja, ceria dan lucu itu.

(yandri imelson/kupangterkini.com)

Komentar