oleh

Pramugari Korban Jatuhnya Sriwijaya air. Nona Berdarah Sabu itu, Jadi Tumpuan Keluarga.

BAGI  pasangan suami istri Zet Wadu dan Ni Luh Sudarmi, anak perempuan satu-satunya, Mia Tresetyani Wadu, yang turut jadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Pulau Lancang, Sabtu (9/1/21) merupakan harapan keluarga ini. Semenjak menjadi pramugari Sriwijaya Air tiga tahun silam,  Mia sudah menjadi salah satu yang membantu perekonomian keluarga kecil ini. 

Salary yang  diperoleh selama masa hidupnya sebagai pramugari tidak dihabiskan sendiri. Dia menyisihkan untuk kedua orang tuanya juga. Termasuk saat ingin melanjutkan studi ke universitas, perempuan muda ini ngotot untuk tidak memberatkan orangtuanya dengan membayar uang kuliah.

Saat bercerita kepada kupangterkini.com, Zet Wadu menuturkan, beberapa hari sebelum anaknya menjadi korban jatuhnya pesawat itu, dia masih sempat mengirimkan  duit untuk dipakai memperbaiki dapur di rumah yang sekarang ditempati. Tak ada tukang bangunan yang membantu, Zet Wadu sendiri yang mengerjakan. ‘’Kadang saya dicandain anak saya, sudah tua jangan dipaksa bekerja keras nanti bapak bisa sakit,’’ tutur Zet menirukan ucapan anaknya.

Yang lucu kata Zet,  Ketika anak lelakinya  Ardi Samuel  menemukan seekor anjing di jalan raya dan dibawa pulang, justru Mia yang ngotot memberi nama. Hingga kontak terakhir dengan ibunya pada Sabtu pagi, sebelum peswat yang diawakinya jatuh, Mia justru memberi nama anjing itu dengan panggilan Ikan. Entah apa maksudnya memberi nama itu, namun keluarga mengiyakan saja. Mengikuti keinginan anak perempuannya. 

Saat dikunjungi teman-teman Mia, alumni QPTC Dimas Airlines School, pada Jumat (15/1/21)   Zet Wadu tak bisa menahan airmatanya. Sembari mengucapkan belasungkawa, mereka bercerita kalau  semasa sekolah Mia adalah siswi yang sangat rajin, pintar dan mudah bergaul. Semua itu ditunjukan dengan ikut memperindah suasana sekitar lembaga pendidikan itu. Dari semula tak ada tanaman hias, Mia berinisiatif, menanamnya. Berbagai jenis bunga dimintakan kepada ayahnya di  Denpasar untuk dikirimkan ke Yogjakarta. Saat cerita diulang kawan-kawan Mia, Zet Wadu bertambah sedih sehingga sulit membendung air matanya.

Baca Juga :   Peti Sudah Disegel, Tak Boleh Dibuka Lagi

‘’Saya juga baru tahu kalau Mia itu suka menolong rekannya. Banyak kawannya cerita kepada saya mereka pernah numpang di  kost Mia di Jakarta saat mereka belum mendapatkan pondokan. Bahkan yang belum bekerja juga ditampung di kost anak saya. Makanya mereka datang  menyampaikan turut berduka kepada saya,’’ cerita Zet.

Dia menambahkan, keinginan menjadi pramugari adalah cita-cita Mia semenjak kecil. Seakan tak bisa terhalangi lagi keinginan itu, kendati orangtuanya agak  keberatan. Saat belum mendengar pengumuman kelulusan SMA, Mia sudah bersama beberapa temannya secara diam-diam berangkat ke Yogja mendaftarkan diri ke sekolah pramugari.  Sesudah diterima baru Mia menceritakan kepada ayah dan ibu nya.

Salah satu saudara ipar Zet, Nyoman Sampun Eka, menuturkan selesai pendidikan di Yogja, Mia ikut test pramugari di dua maskapai, Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia. Ternyata Mia lulus di dua maskapai ini. Cuma Mia lebih dulu menandatangi kontrak kerja dengan Sriwijaya Air dan setelah mempertimbangkan dengan keluarga panggilan sebagai pramugari di Garuda Indonesia dilepas.

‘’Pagi jam 09.00 sudah menandatangani kontrak dengan Sriwijaya Air, pada sore hari sekitar pukul 16.00 Garuda Indonesia memanggilnya. Kala itu anak saya binggung jadi sempat bertanya kepada saya.  Karena kalau  membatalkan kontrak harus ada ganti rugi, jadi setelah berembuk dengan keluarga akhirnya Mia memilih tetap di Sriwijaya air saja,’’ rinci Sampun Eka.

Waktu  itu, katanya lanjut, pihak keluarga memberikan keleluasaan memilih. Jadi itulah pilihan yang diambil, menjadi pramugari Sriwijaya Air. ‘’jika sekarang kami berandai-andai sudah tidak ada gunanya. Jalan takdir berkata lain, semua sudah terjadi,’’. (shitri sulla/albert kin)

Komentar