oleh

Berwarna Pink, Kesukaan Semasa Hidup

MUMBUL – Berada di deretan bagian barat dan sebelah kanan jalan masuk menuju pekuburan Kristen Mumbul, Kuta Selatan. Di sanalah pusara mendiang Mia Tresetyani Wadu, 23 berada diantara deretan pusara lainnya.

Warna mencolok mata, pink berbeda dengan pusara lain yang berwarna putih. Di atas nisan bertuliskan nama lengkap dilengkapi tanggal lahir dan waktu wafat, tertutup kaca bening yang melindungi nisan dari terik dan hujan. Dalam kaca berbentuk kubus itu ada juga miniature pesawat dan gradient dolphin

Mencapai pusara itu tidaklah sulit. Dari gerbang masuk, mendapat jalan menanjak sekitar 50 meter, ke arah kanan sudah terlihat pusara berwana pink itu.

Saat wartawan kupangterkini.com ikut dalam rombongan peziarah ke makam Mia, Selasa (16/2/21) sekitar pukul 17.00 Wita, suasana di tempat itu relatif sepi. Cahaya mentari sore hari itu cukup menyengat kulit tak menyurutkan niat keluarga ini nyekar. Selain ayah dan ibu, kakak lelaki Mia, Ardi Samuel Cornelis, pamannya Nyoman Sampun Eka dan keluarga lainnya.

Zet Wadu berujar, ‘’ini tempat tinggal anak saya sekarang. Sudah banyak tetangga, Cuma warnanya berbeda.’’ Dari balik masker hitam yang dikenakan masih terlihat raut kepedihan, lelaki asal Sabu, NTT itu

Mia Tresetyani Wadu, salah salah satu korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu, 9 Januari lalu. Anak perempuan Zet dan Sudarmi, yang baru tiga tahun terakhir menjadi pramugari di maskapai itu ikut jadi korban.
‘’Sejak awal kami tak bisa menerima kejadian ini, namum kini kami sudah pasrah, kehendak Tuhan yang terjadi atas keluarga ini,’’ kata Zet.

Acara tabur bunga dilakukan, satu persatu anggota keluarga berjumlah sembilan orang itu manaburi bunga pusara. Dalam tradisi Sabu atau masyarakat NTT secara umum bunga itu biasa disebut sebagai rampe. Terbuat dari irisan daun pandan dicampur bunga warna warni berbagai jenis.

Baca Juga :   Dibacok Sepulang Acara Nikah

Rampe yang dipegang ibunda Mia, Ni Luh Sudarmi dibagikan kepada semua yang hadir. Satu persatu menaburi rampe di atas pusara sambil berucap. Memberikan kalimat pasrah atau mendo’akannya. Sang bunda duduk di bagian kepala pusara, yang menerima rampe menghampirinya.

Begitu bunga yang dibawa sudah habis, rombongan ini enggan cepat pulang. Masih duduk bersama mengelilingi pusara, sambil bercerita soal masa hidup sang buah hati. Semua cerita lucu, konyol hingga membanggakan diungkapkan saat itu.

Tak lupa keluarga membawa serta seekor anak anjing warna putih dari ras pomeranian. Binatang peliharaan ini punya cerita khusus dengan mendiang Mia. Saat sang ayah menemukan anjing itu di jalan raya, Mia memberi namanya Ikan. Nama yang terbilang aneh, namun sampai sekarang nama itu tidak dirubah.
Soal warna nisan yang baru selesai dikerjakan dua hari lalu, Ni Luh Sudarmi menyebutkan warga pink dipilih karena merupakan warga kesukaan mendiang semasa hidup.

‘’Nisan Mia baru selesai dikerjakan dua hari yang lalu. warnanya pink berbeda dari yang lain, ini merupakan warna kesukaan Mia semasa hidup. Ini juga agar teman teman Mia yang ingin mengunjungi makamnya lebih mudah ditemukan, ‘’ ujar Sudarmi pelan.

Katanya, meski belum pernah ketemu dengan anjing peliharaan itu tapi telah menjadi kesayangan Mia. ‘’Namanya Ikan dan Mia sendiri yang memberi nama tersebut,” kenang Sudarmi sambil mengelus nisan anaknya.

(yandri imelson/kupangterkini.com)

Komentar