oleh

Nilai Persahabatan

MINGGU siang, saya coba bersepeda ke areal persawahan di Desa Kedungrejo, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Setiba di salah satu lahan yang seluas sekitar 5 hektar, ternyata ada warga dari Kota Lumajang, sekitar 15 km jaraknya sedang berfoto ria layaknya sebuah kawasan objek wisata.

Ada warga yang bersenda gurau, ada yang sedang mengabadikan foto, ada juga yang berjalan kaki di areal persawahan milik Desa Kedungrejo tersebut sembari mengabadikan moment menarik.

Saya memperhatikan warga saling menyapa penuh keramahan sembari memberi jalan bagi mereka yang ingin melihat dan mengalami objek obyek aneka tanaman yang tumbuh subur di areal lima kilometer itu.

Tampak warga yang berwisata di tempat itu merasa senang. Selain bisa bertemu sesamanya juga mereka bisa langsung membeli kebutuhan berupa sayur mayur, kacang panjang, labu, tomat, bawang merah dan lombok.

Sebuah peristiwa lain bisa direkam juga oleh kita bahwa betapa mahalnya nilai sebuah jalinan persahabatan antara warga.

Romo Markus Marlon, MSC mengatakan, sebagai manusia, setiap orang adalah ‘malaikat dengan satu sayap. Kita bisa terbang hanya bila kita saling berpasangan, bertemu dan berbincang dengan yang lain seperti sihir seorang artis Italia, Luciano de Cresenzi.

Benar juga bahwa pada hakekatnya manusia adalah makluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian tanpa berhubungan dengan orang lain atau sesamanya.

Relasi dengan sesama itu sangat penting dalam hidup bermasyarakat. Betul adanya ungkap salah seorang motivator Amerika Serikat, Steve Chanler dalam buku berjudul ‘100 ways to Motivate Yourself’.

Karena itu sepantasnya kita perlu meresapi apa yang dikatakan orang Inggris berikut; ‘good fence make good good neigbours’. Artinya pagar yang baik menciptakan tetangga yang baik.

Baca Juga :   Punya Obyek Wisata Pantai Teres

Lantas kenapa orang kian berlomba untuk membuat pagar setinggi mungkin, dipasangi pecahan kaca. Dan bahkan tidak jarang tampak di arel kawasan perkotaan terpasang kawat berduri dan aliran listrik.

Bukankah pagar-pagar tersebut menjadi penghalang untuk saling menyapa saban hari sebagai sahabat? Semoga tidak demikian.

Catatan : Albert Kin Ose

Komentar