oleh

Ganjaran Bagi Ganjar

-Politik-1216 Dilihat

GANJAR Pranowo sedang naik daun, pasalnya sejumlah hasil survei menyatakan hal tersebut. Terakhir, survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan elektabilitas Ganjar (15,7%), sudah melampaui Anies Baswedan (14,6%), bahkan Prabowo Subianto yang hanya mendapat dukungan publik sebanyak 11,1%.

Survei yang dilakukan 13-17 April 2021 di 34 provinsi itu menunjukkan kecenderungan (trend) penurunan pada Prabowo Subianto, trend fluktuasi (naik turun) pada Anies Baswedan, dan stagnan untuk Ganjar Pranowo. Dalam survei, trend adalah rujukan penting, dan stagnasi menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Pada survei September 2020, suara Ganjar bahkan sempat turun.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengubah trend stagnan itu?
Pertama-tama, adalah membuat dirinya terus dalam ranah perbincangan orang. Semakin sering dibicarakan, semakin baik. Terlepas tidak diundangnya Ganjar Pranowo dalam acara internal PDI Perjuangan di Semarang sebagai sebuah drama atau bukan, setidaknya media dan publik ramai membicarakan nama Ganjar, bahkan mungkin hingga seminggu ke depan.

Selain drama, penciptaan frasa dan penggunaan diksi akan memicu trending topic. Prabowo Subianto banyak sekali menggunakan diksi yang menuai pembicaraan khalayak ramai. Di Kampanye Akbar, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Prabowo menggunakan diksi diperkosa untuk menggambarkan kondisi ibu pertiwi.

Pada momen yang sama, Prabowo juga menggunakan terminologi Jawa yang dianggap sangat kasar “ndasmu” untuk mengejek pertumbuhan ekonomi Jokowi yang ‘hanya’ 5%.

Prabowo kemudian terkenal dengan diksi bocor, tampang Boyolali, serta beberapa lainnya, dan media mengeksploitasi hal tersebut. Hasil akhirnya, Prabowo dibicarakan orang, bukan Jokowi.

Baca Juga :   PDIP Dukung Paslon Takem Radja Pono

Komentar