oleh

Korban Meninggal di NTT Sebanyak 131 Orang

DENPASAR – Korban meninggal akibat badai siklon tropis yang melanda provinsi NTT berjumlah 131 orang. Sebanyak 71 orang masih dinyatakan hilang akibat tertimbun longsor

Rinciannya Kabupaten Flores Timur (Flotim) 49 orang, Lembata 67 orang, Alor 13 orang dan Kabupaten Ende dua orang meninggal dunia.

‘’Seluruh wilayah NTT merata terkena dampak siklon tropis ini, dan paling parah ada delapan kabupaten,’’jelas Wagub NTT Josep Nae Soi saat keonferensi pers, Senin (5/4/21) malam.

Terparah parah terjadi di Flores Timor, Lembata, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Alor dan Malaka. Dampaknya sangat luar biasa di delapan daerah kabupaten ini.

Menurut Wagub, di Kabupaten Malaka masih ada enam desa terisolir. Jalan dan jembatan yang menghubungkan ke wilayah itu putus. Sama hal nya yang terjadi di Adonara. Sedangkan di Sabu Rajua, enam kecamatan di tempat itu tak bisa dijangkau.

Kepala BNPB Doni Monardo yang turun langsung ke Flotim mengatakan daerah terisolir akan didukung heli untuk pemberian bahan makanan. ‘’Pencarian korban longsor saat ini dilakukan manual dibantu oleh aparat TNI dan Polri,’’ katanya.

Ada delapan excavator namun belum bisa dibawa ke Adonaro dan Lembata akibat ketiadaan angkutan laut. Sambil menunggu cuaca normal pencarian korban dilakukan manual.

Sementara Kepala BMKG Prof Dwikorita, mengatakan bibit Siklon Tropis sudah terdeteksi sejak 2 April. Indikasinya suhu laut di Samudra Hindia makin panas antara 26 – 29 derajat celcius.

‘’Siklon ini tanggal 6 April mulai melemah bergerak meninggalkan Indonesia ke barat daya. Tanggal 7 April akan punah dari wilayah Indonesia dan memasuki bagian barat Australia,’’ jelas Dwikorita.

Namun tiupan angin masih kencang, sehingga perlu diwaspadai adalah gelombang tinggi. Wilayah pantai harus dikosongkan, ada gelombang tinggi karena kecepatan angin mencapai 80 km perjam.

Baca Juga :   BNPB Pastikan Percepatan Relokasi Korban Bencana

Albert kin ose/kupangterkini.com

Komentar