Buat Apa Disebut Bantuan? Alsintan Negara Seperti Alat Swasta, Harga Mencekik, Petani Meradang

Regional283 Dilihat

OELAMASI – Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Louis Maakh, mengkritik keras pengelolaan alat mesin pertanian (alsintan) bantuan pemerintah, baik berupa traktor maupun mesin panen Combine Harvester. Menurutnya, bantuan yang seharusnya meringankan beban petani justru berubah fungsi menjadi ladang mencari keuntungan pribadi.

Dalam pernyataannya, Luis menilai ada kejanggalan mencolok pada penetapan harga sewa alsintan bantuan tersebut.
“Saya pertanyakan, kenapa harga yang dipatok pemegang alsintan bantuan pemerintah ini sama persis dengan harga yang ditetapkan pengusaha swasta? Kalau harganya sama saja, apa bedanya alat bantuan milik negara dengan alat milik orang pribadi?” tegas Luis kepada kupangterkini.com Rabu (20/5/26).

Ia menegaskan, kondisi ini membuktikan bahwa bantuan pemerintah tersebut kini dijadikan bisnis oleh para penerimanya. Memang diakui ada biaya operasional dan pemeliharaan yang wajar, namun menurutnya nilainya tidak boleh membebani petani seperti halnya menyewa dari pihak swasta.

“Kalau memang petani harus membayar, itu wajar untuk biaya perawatan dan operator. Tapi harganya tidak boleh sampai mencekik leher petani seperti ini. Kalau standarnya sama persis dengan swasta, berarti ini bukan lagi bantuan pemerintah, tapi sudah berubah jadi alat bisnis,” kritiknya.

Baca Juga :  Nona Asal So’e, Terancam Lima Tahun Penjara

Luis pun meminta pemerintah bertindak tegas dan mengatur secara jelas standar harga sewa bagi alsintan bantuan tersebut. Tanpa aturan yang pasti, ia khawatir program untuk mendukung ketahanan pangan justru menjadi bumerang.

“Bagaimana mungkin kita berharap petani bisa sejahtera dan swasembada pangan, sedangkan biaya untuk mengolah lahan dan memanen saja sudah memberatkan? Bantuan ini tujuannya kan jadi solusi, bukan malah membuat penerimanya cepat kaya sementara petani tetap tertekan,” ujarnya kesal.

Baca Juga :  Kepala Desa Oesao Ketahuan Merayu Istri Tetangganya

Ia berharap ke depan ada pengawasan ketat. Jangan sampai fasilitas yang dibayar dengan uang rakyat justru dinikmati keuntungannya hanya oleh segelintir orang, sementara tujuan kesejahteraan petani terabaikan.

laporan : yandry imelson

Komentar