DALAM era globalisasi, judul ini sudah tidak begitu laku. Ditulis berkali-kali, mungkin juga tidak menarik untuk dibaca. Kalaupun ada yang membaca, mungkin hanya sepintas karena isinya dianggap kampungan, jauh dari modernisasi – globalisasi, terutama bagi mereka yang selalu menjaga gengsi.
Pasar tradisional, produk dan jenis lokal memang berbau kampungan. Bila disimak lebih dalam sesuai kearifan lokal maka judul yang serba lokal tersebut bisa menggeser yang berbau modern seperti supermarket, produk impor maupun jenis makanan impor lain.
Bila melirik kaum ibu, para pembuat pajegan (sesaji), demi gengsi akan memaksakan dirinya menggunakan produk impor seperti apel, buah pir, anggur, buah naga dan lain-lain.
Produk lokal seperti nenas, duku, kepundung, jeruk besar, wani, jambu biji dan jambu air jelas tersisihkan. Pasar tradisional, produk lokal terutama jenis unggul meski ketiganya dianggap tidak bergengsi itu diabaikan. Tentu dalam jangka panjang dampaknya tidak kalah dengan yang serba baru itu.
Merujuk pada kearifan lokal, memang bersifat lokalita, tidak ada di mana-mana kecuali di tempat aslinya. Namanya kearifan lokal. Jadi, sulit bahkan tidak mungkin diwujudkan di tempat lain karena di dalamnya tersembunyi nilai yang sulit dicerna dengan pemikiran, hasil kerja otak manusia.

























Komentar