Banyak kearifan lokal bahkan bersifat misterius. Seperti kasus mayat di Desa Trunyan yang tidak berbau busuk. Apabila hal tersebut ditularkan di tempat lain tentu banyak yang ingin mewujudkan.
H2 S, Amoniak, gas Methan yang berbau tidak sedap itu dianggap terserap tuntas oleh pohon besar yang tumbuh di kuburan, yang oleh masyarakat disebut taru menyan. Itulah yang menyebabkan hilangnya bau busuk.
Apabila logika itu benar maka kita akan bisa menghilangkan bau busuk dengan menanam jenis pohon itu di mana-mana seperti di TPA, bahkan dalam kota untuk perindang plus penghilang bau busuk, namun hal itu mungkin tak bisa terjadi.
Saat saya masih bertugas di Kabupaten Bangli saya pernah mengamati beberapa kuburan dan saya melihat banyak tanaman serupa tumbuh di mana mana termasuk di kuburan dan bahkan di hutan, namun tidak menimbulkan dampak seperti yang terdapat di kuburan Desa Terunyan.
Fakta kedua, saya pernah mengirim bibit salak Bali dari Desa Sibetan, Kabupaten Karangasem untuk ditanam di Kalimantan Timur dan Condet (Jawa Barat) dengan harapan produksinya sama dengan produksi salak Sibetan. Nyatanya, harapan itu tetaplah harapan karena sia-sia alias gagal sekalipun bibit salak yang dikirim tersebut tumbuh subur.

























Komentar