oleh

Buang Sine : Ada Upaya Menghabisi Randy

KUPANG – Aliansi pencari keadilan kembali menggelar aksi damai jilid V di taman Nostalgia. Kali ini berbeda dari aksi sebelum – sebelumnya, aliansi menghadirkan sosok Buang Sine yang saat ini tengah menjadi sorotan.

Buang Sine yang dihadirkan lewat zoom menyertakan beberapa petunjuk terkait dengan pelaku kematian Astrid dan anaknya Lael. Ada percakapan suara maupun percakapan teks yang dibeberkan mantan penyidik tersebut.

Pantauan kupangterkini.com Minggu (16/1) di taman Nostalgia, kelurahan Kelapa Lima, melalui video berdurasi tujuh menit Buang Sine menyebutkan petunjuk – petunjuk yang telah ia serahkan ke Polda NTT serta pihak Kejaksaan. “Saya akan menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan pembunuhan saudari Astrid dan Lael yang terjadi di Penkase Oeleta,” ucapnya dalam video tersebut.

Ia menambahkan bahwa apa yang akan disampaikan bahwa hasil temuan TPFI. “Demi mengungkap dan mengembangkan kasus ini, terhadap adanya pelaku lain yang bertanggung jawab atas pembunuhan Astrid dan Lael,” ungkap Buang Sine.

Dalam videonya itu juga di sisipkan sebuah percakapan antara seorang pria dengan wanita yang diketahui berinisial SM yang menyatakan pelakunya tidak lebih dari satu orang. “Tidak dua orang, saya bilang lebih dari dua,” ucap SM dalam percakapan tersebut.

Menurut Buang Sine, dalam percakapan yang terang – benderang tersebut, TPFI telah memberikan kepada Kapolda NTT pada tanggal 3 Januari 2022. “Sedangkan fakta kedua yang kami temukan adalah adanya percakapan dua orang berinisial F dan Q yang mana dalam percakapan kedua orang ini, mereka menyebutkan kronologi sebenarnya dari pembunuhan Astrid dan Lael, dimana saudara R tidak terlibat dalam pembunuhan ini. Saudara R hanya berperan menguburkan kedua jenazah korban,” terang Buang Sine.

Kemudian ditampilkan teks percakapan tersebut yang dibacakan oleh koordinator aliansi, Christo Kolimo. “Waktu kemarin kita kumpul, semua di Kupang, saya sempat peluk Randy, saya nangis, saya tanya pada papa kenapa lu bunuh itu anak, dia bukan dia. Saat itu juga kita semua langsung semangat, mamanya Randy sampai semaput (pingsan) tidak kuat dengan ini masalah,” begitu isi percakapan tersebut.

Buang Sine kemudian melanjutkan bahwa kronologis dan pelaku lengkap dari pernyataan S dan Q juga sudah diberikan kepada Kapolda NTT dalam lampiran laporan TPFI. “Fakta lain yang kami temukan adalah, adanya pernyataan dari keluarga R yang menyatakan bahwa, ketika R hendak menyerahkan diri ke Polda NTT, R menyampaikan kepada keluarganya, Ayahnya, ibunya dan tante – tantenya bahwa dia bukan pelakunya, tangannya bersih,” ucap Buang Sine.

Lanjut Buang Sine, hal itu diperkuat dengan rekaman suara seorang kerabat (mama besar) dari Randy. “Fakta ini menunjukkan bahwa Randy bukan pembunuhnya, karena dia sendiri yang menyampaikan kepada keluarganya, lantas siapa pembunuh sebenarnya mungkin penyidik dapat mendalami Randy untuk menanyakan hal itu. Jika Randy bukan pembunuhnya, maka ada pembunuh lain sangat klop dengan pernyataan SM bahwa pelaku pembunuhan Astrid dan Lael lebih dari dua orang, inilah tiga fakta yang ditemukan oleh TPFI,” ujarnya.

Kemudian, fakta keempat yang ditemukan TPFI adalah upaya untuk membunuh Randy ketika Randy hendak menyerahkan diri ke Polda NTT. “Upaya untuk membunuh Randy ini telah terencana oleh oknum – oknum yang menawarkan diri untuk menghabiskan R karena R adalah saksi kunci dari pembunuhan ini,” tambahnya.

Pernyataan tersebut, lanjut Buang Sine diperkuat dengan adanya teks percakapan yang ia dan timnya dapatkan dan sudah dilampirkan dalam laporan yang diserahkan ke Kapolda NTT. “Sehingga harapan kami, bapak Kapolda dapat menindak lanjuti temuan kami ini agar menemukan pelaku – pelaku lain dari pembunuhan Astrid dan Lael,” tandasnya.

Kemudian ditampilkan lagi teks percakapan yang pada intinya merencanakan untuk menghabisi Randy. “Baru – baru katong ada tawar, sebelum Randy pergi menyerahkan diri, katong tawar mau habisi dia, hanya bayaran talalu mahal makanya dong sonde barani. Kalo dari awal Randy mati maka masalah akan hilang, karena dia saksi kunci na,”

Jika diartikan, teks tersebut berbunyi, “sebelumnya, kita sudah menawarkan untuk menghabisi Randy sebelum ia menyerahkan diri, tapi karena harganya mahal maka mereka tidak berani. Kalau dari awal Randy mati, maka masalah akan hilang, karena dia saksi kunci,” begitu maksud percakapan tersebut.

laporan : yandry imelson

Baca Juga :   Gubernur NTT Dinyatakan Positif Covid-19
Baca Juga :   Karel Here : ‘’Keluarga Bersyukur Negara Tak Tinggalkan Kami’’

Komentar

Berita Terbaru