oleh

Jalani Keterbatasan, Mampu Raih Emas

KUPANG – Keberhasilan atlit Muaythai NTT, Susanti Ndapataka menyabet medali emas pada PON XX Papua tidak dilalui dengan mudah. Pasalnya, sebelum terjun dan bersaing pada ajang nasional tersebut perjalanan panjang serta berliku dialami atlit asal kabupaten Kupang bersama pelatihnya, Angga Silitonga.

Pantauan kupangterkini.com berdasarkan pengakuan Angga Silitonga, pelatih Muaythai NTT kepada media Kamis (7/10/21) bahwa, selama mempersiapkan Susanti mengikuti setiap kejuaraan hingga PON Papua hanya dengan dana seadanya. “Selama pra – PON itulah kita kesulitan dana, saya mulai mencari sumbangan kesana kemari istri saya juga menjual kue, gorengan, bikin kulit lumpia sampai menggadaikan BPKB motor,” jelasnya.

Setelah itu, detik – detik terakhir sebelum berangkat mengikuti pra – PON mereka mendapatkan sumbangan dana sebesar Rp 10 juta. “Dengan uang yang pas – pasan itulah kami bisa berangkat mengikuti pra – PON 2019 di padepokan silat taman mini indonesia indah (TMII) Jakarta,” lanjutnya.

Saat itu, Susan berhasil menjuarai zona Indonesia Tengah serta Zona Indonesia Timur. “Setelah itu, kami pulang dengan status juara pra – PON dua zona sekaligus,” ujarnya.

Lanjut Angga, selanjutnya pada 2020 silam mereka mempersiapkan diri secara mandiri. “Sampai ditengah ternyata PON batal dan diadakan 2021,” lanjutnya.

Memasuki tahun 2021, mereka masih melakukan latihan secara mandiri. “Karena belum ada kepastian kapan latihan terpusat,” tambahnya.

Singkat cerita, bahkan hingga akan terjun ke PON Papua pun masih kesulitan terkait dana. “Bahkan besoknya mau berangkat ke Papua saja dananya baru cair pukul 02.00 dinihari,” ujarnya.

Sampai di Papua pun sebagai pelatih, Angga mengatakan masih juga mengalami kesulitan. “Bahkan segala informasi mengenai jadwal pertandingan, jadwal, kasus serta gugatan hasil pertandingan saya dapat dari provinsi lain,” ucapnya.

Jadi, menurutnya ia sangat sakit hati dengan keadaan yang terjadi dan tidak terima dengan orang yang mengklaim paling berjasa. “Saya merasa kecewa, sakit hati kalau ada orang yang berangkat ke Papua namun hanya jadi batu sandungan, trus kalau disini wawancara berdiri paling depan,” tambahnya.

Namun menurutnya, walaupun ada sedikit tantangan yang dihadapi, tetapi akhirnya menang serta berharap dengan kemenangan Susanti ini Muaythai NTT semakin diperhatikan. “Sehingga kedepannya Muaythai NTT terus berkembang dan menjadi Susanti – Susanti berikutnya,” ucapnya.

Dari semua keterbatasan, kekurangan serta kesulitan yang dihadapi Angga tidak lupa menyentil ketua pengurus provinsi (pengprov) Muaythai Indonesia NTT, Sugeng Prihatin yang menurutnya menyulitkan tim. “Jujur saya sangat kecewa dengan ketua pemprov,” tandasnya.

Anggota DPR RIHadiahi Susan Rp 50 Juta.

Sementara itu, atas keberhasilan mempersembahkan medali emas pertama bagi NTT, Susan mendapatkan apresiasi sebesar Rp 50 juta dari anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Anita Jacoba Gah yang menurutnya mendapat medali ini bukan hal mudah. “Saya yakin dan percaya mendapat emas ini bukan didapatkan dengan mudah, ada keringat, air mata serta tekad yang luar biasa,” ujarnya.

Ia juga berharap kepada Susan serta pelatihnya untuk terus semangat dan terus berprestasi bagi NTT. “Atas nama pribadi, keluarga, keluarga besar partai Demokrat serta seluruh masyarakat NTT ibu mengucapkan trimakasih kepada Susan dan Angga yang sudah mengharumkan nama NTT,” ucapnya.

Selain itu, ketika mendengar tentang kesulitan, kekurangan serta keterbatasan yang dialami Susan serta pelatihnya, Anita cukup geram. “Melihat hal seperti ini saya prihatin, ini pukulan bagi pemerintah daerah, jangan sampai nanti atlit – atlit kita diambil oleh provinsi lain,” tambahnya.

Jadi, menurutnya pemerintah NTT harus betul – betul melihat apa yang dibutuhkan serta diperlukan atlit – atlit. “Saya minta kalau mau NTT kita ini maju, taruhlah orang – orang yang berkomitmen meningkatkan olahraga di NTT,” cecarnya.

Ia mengatakan jangan karena kenal terus hanya asal menempatkan orang. “Kalau tidak mau anak – anak kita ini dibeli provinsi lain rangkul mereka, didik dan perhatikan mereka semua,” tandas Anita.

laporan : yandry imelson

Baca Juga :   Pelaku Kekerasan Seksual Layak Dihukum Kebiri
Baca Juga :   Lab Biokesmas Bukan Milik Undana

Komentar

Berita Terbaru