Natal Bicara Melalui Simbol Kesederhanaan Jemaat GMIT Ebenhaezer Tarus Barat

Regional797 Dilihat

KUPANG – Natal tahun ini tidak datang dengan kemewahan yang mencolok bagi Jemaat Ebenhaezer Tarus Barat. Melainkan dengan pesan mendalam yang disampaikan melalui simbol-simbol sederhana yang menjadi bahasa iman tentang hidup yang nyata.

Begini Simopsis Gereja Ebenhaezer Tarus Barat, pengakuan dari perjalanan, bukan kenyamanan Jemaat yang terdiri dari kurang lebih 3.650 jiwa tersebar di 41 rayon dan 7 wilayah pelayanan mengangkat pengakuan sederhana namun sarat makna. “Ebenhaezer sampai di sini Tuhan menolong kita”.

Pengakuan ini lahir dari perjalanan yang tidak selalu mudah dengan langkah yang tertatih, malam-malam panjang penuh air mata, pergumulan ekonomi dan luka hidup yang tak terlihat. Namun di balik semua itu, kebenaran bahwa Tuhan setia tetap teguh.

Baca Juga :  Calon Pendeta Terancam Hukuman Mati

Simbol-simbol yang berbicara
Pohon Natal yang dihiasi bukan dengan hiasan mewah, melainkan barang-barang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karung goni kasar mengajarkan bahwa kasih Tuhan kuat dan menopang, meskipun hidup terluka dan rapuh.

Buah lontar menyimbolkan ketahanan tumbuh di tengah kondisi keras namun tetap memberi kehidupan, seperti jemaat yang bertahan dan berbagi meskipun merasa kurang. Anyaman tempurung kelapa dan daun lontar mengingatkan bahwa hidup tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian setiap helai yang rapuh bila dianyam bersama menjadi kuat, seperti jemaat yang disatukan dalam kasih Kristus.

Baca Juga :  Pencuri Ternak Beraksi Lagi

Kandang domba dari kayu bekas dan daun lontar menyampaikan tentang perlindungan yang sederhana namun aman, serta bahwa Tuhan dapat memakai hal-hal yang tampak biasa atau bahkan bekas untuk membawa kebaikan dan harapan.

Tak hanya itu, dekorasi juga meliputi palungan dari anyaman daun lontar dan kain lampin dari selimut sabu semuanya menjadi pesan bahwa Tuhan merasa dekat dengan setiap orang yang merasa hina atau terlalu kecil dan kasih-Nya menjangkau semua lapisan kehidupan.

Baca Juga :  Hilang Dua Hari, Kakek 76 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa

Dalam sambutannya, pihak jemaat menyampaikan bahwa Natal bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan bisikan lembut bagi jiwa sebuah jeda di tengah hiruk-pikuk dunia untuk menarik nafas, menatap kembali perjalanan hidup dan bersyukur.

“Dalam kesediaan yang sederhana dan kesetiaan yang biasa-biasa saja, Tuhan mencukupkan kebutuhan kita. “Kekuatan kita sebagai jemaat lahir dari kebersamaan, dari kesediaan untuk saling menopang dan berjalan bersama,” ujar perwakilan Jemaat.

laporan : yandry imelson

Komentar