OELAMASI — Persoalan pengairan sawah yang memanas memicu konflik berujung kekerasan terhadap antar petani, sehingga pihak keluarga korban mendesak agar pelaku yang berinisial HS segera ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Penahanan ini dinilai penting guna mencegah terjadinya konflik lebih lanjut.
Yermy Lay selaku keluarga korban (HAL) saat ditemui kupangterkini.com Kamis (1/10/26) menegaskan desakan itu juga didasari kondisi kesehatan korban yang menderita diabetes serta tekanan darah tinggi, sementara luka cukup parah di bagian tangan dikhawatirkan dapat memperburuk keadaan kesehatannya. Pihak keluarga tidak bermaksud menekan kepolisian dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berlaku. Meski demikian, pelaku harus segera ditahan agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan maupun mengulangi perbuatannya kepada orang lain.
Berdasarkan pantauan media ini, HS diketahui telah beberapa kali terlibat perselisihan dengan sesama petani terkait pembagian air irigasi. Kendati sudah ada kesepakatan yang difasilitasi petugas peekumpulan petani pemakai air (PPPA), HS kerap melanggar ketentuan tanpa merasa bersalah.
Terpisah, Ketua PPPA Dalam Kom, Kelurahan Babau, Louis Maakh juga menyatakan harapan agar HS segera ditahan. Langkah ini dianggap perlu agar peristiwa serupa tidak terulang dan tidak menimbulkan kegelisahan di kalangan petani lainnya.
Ia menambahkan bahwa aturan serta kesepakatan pembagian air sudah disepakati bersama, namun tetap dilanggar. Pihaknya juga meminta petugas Kamtibmas Kelurahan Babau untuk lebih aktif melakukan sosialisasi serta pendampingan kepada para petani, mengingat debit air yang kian menipis sehingga rentan memicu perselisihan jadwal pengairan.
“Kepada pemerintah, kami berharap memperhatikan keadaan ini dan menyusun solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini sangat penting karena sebagian besar masyarakat Kabupaten Kupang bermata pencaharian sebagai petani,” tandasnya.
laporan : yandry imelson
