Wali Kota Galina

Disway993 Dilihat

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Tanah Air

Amat Kaselanovic
Baiklah. Saya mau berkomentar serius dulu sebelum ngawur, terkontaminasi Om Leong dkk. Abah Dis hanya menyebutkan lima Gubernur dari 34 provinsi. Saya menambahkan informasi dari “Tanah Banjar”, “Banua” saya yang tercinta. Gubernur Kalimantan Selatan, Paman Birin (H. Sahbirin Noor), membawa air dari sumur yang berada di tengah Kota Martapura dan tanahnya diambil dari tanah di Desa Dalam Pagar. Air dan tanah tersebut kemudian didoakan oleh K.H. Muhammad Wildan Salman (Guru Wildan), ulama setempat. Sejarahnya, sumur yang diambil airnya tadi, digali atas perintah Tuan Guru H. Zainal Ilmi, seorang ulama Banjar (1886-1956). Sejak digali hingga sekarang, sumur itu tidak pernah kering meskipun di daerah tersebut dulu pernah dilanda bencana kemarau panjang. Sedangkan tanah yang diambil, merupakan tanah dari Desa Dalam Pagar, yaitu di tempat kediaman Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan (1710 – 1812). Dulu, tanah tersebut adalah hadiah dari Sultan Kerajaan Banjar saat itu, Sultan Tamjidillah, setelah Syekh Muhammad Arsyad pulang dari menuntut ilmu di Makkah. Tanah tersebut lalu dijadikan Datu Kelampayan sebagai tempat tinggal juga menjadi tempat beliau mengajarkan ilmu agama hingga lahirnya para alim ulama di Kalsel hingga sekarang. Sekian. Bagaimana dengan gubernur kalian?

Sin
Kocap kacarito..kakean kecap kurang mrico.. Petruk aka Prabu Kantong Bolong kagungan titah sabdo pandhito ratu..babat alas gung liwang liwung untuk dijadikan keraton kerajaan.. ### “uangnya darimana ndoro?” “tenang 11.000 trilyun sudah di kantong” “lho sampeyan niku Prabu kantong bolong lho ndoro..mbok di cek dulu uangnya masih ada apa ndak” “YNTKTS” ### kijang satu masuk kijang satu..yang baju merah jangan sampai lolos..!!! siap 69 #Sin

Mirza Mirwan
kepencet. Sengaja nunggu barang dua-tiga jam. Dan ternyata pukul 19.20 sudah hampir menyamai total komentar edisi Malam Kepahiang kemarin. Capek juga mengacak baca sekitar 65% komentar yang sudah ada. Tentang kekeliruan Pak DI menyebut Pak Bambang Susantono sebagai mantan Wamen PUPR, sudah ada yang mengoreksi tadi. Yang benar adalah Wamen Perhubungan. Malah pernah menjadi Plt Menhub setelah Pak E.E. Mangindaan — Menhub — dilantik jadi anggota DPR. Tentang gubernur membawa air dan tanah dari provinsi masing-masing. Apakah itu berkaitan dengan klenik? Wah, terlalu jauh, dan terkesan melecehkan intelektualitas dan religiositas Bu Khofifah (Jawa Timur) yang Ketum PB Muslimat NU dan Pak Zulkiflimansyah (NTB) yang kader PKS. Pak Jokowi sendiri, yang saya tahu, bukan orang yang percaya klenik. Jauh sebelum jadi presiden, saat baru menjadi walkot Surakarta, beliau pernah kedatangan “orang pintar” yang menawarkan untuk menyingkirkan makhluk gaib yang menjadi penunggu Loji Gandrung, rumah dinas walkot. Percaya? Nggaak. Dan orang pintar itupun undur (barangkali sambil misuh-misuh). Filosopi tanah dan air dari seluruh provinsi untuk dikumpulkan di IKN adalah agar siapapun presiden republik ini selalu ingat bahwa tanggung jawabnya untuk mencakup seluruh tanah air Republik Indonesia. Bukan hanya provinsi tertentu. Apakah setelah Pak Jokowi menyelesaikan masa jabatan kedua dan digantikan presiden lain proyek IKN berpotensi mangkrak? Saya, kok, yakin tidak. Pembentukan IKN sudah dikuatkan dengan UU. Kalaupun, misalnya, presiden setelahnya akan membatalkannya dengan PERPPU, itu tidak mudah. Harus mendapatkan persetujuan DPR untuk mengesahkannya. Kalau DPR tidak menyetujuinya, ya percuma. Sepertinya tadi sudah ada yang menyinggung soal itu. Dan kayaknya hanya presiden yang menganut asas “pokoknya beda” yang akan membatalkan UU IKN dengan PERPPU. Uang bisa dicari, tulis Pak DI. Benar. Banyak yang sinis kalau bicara soal utang. Padahal negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, misalnya, utangnya bukan main besarnya. Bedanya, di AS atau Jepang, rakyatnya tak pernah nyinyir dengan utang pemerintahnya. Tabik.

Baca Juga :  Catat Sejarah

Hardiyanto Prasetiyo
Nuwun sewu absensi njenengan mbleset bah, gubernur Banten itu diwakilkan oleh Wagubnya, kok gak disebutkan? Berarti seharusnya yg diwakilkan wagub ada 3 provinsi. Lalu disebutkan 31 gubernur yang hadir dan 2 diwakilkan wagubnya berarti jumlah provinsi total yg hadir 33, sedangkan jumlah provinsi ada 34. Pertanyaannya yang 1 provinsi kemana?

Fauzan Samsuri
Jadi ingat dulu waktu mau kuliah yang ke luar kota, selain bekal-bekal lain, ibu juga ngasih bekal segenggam tanah yang diambil dari pekarangan rumah, waktu saya tanya, ini untuk apa?, ibu saya bilang biar betah. Meski belum menemukan alasan akademisnya, tradisi ini juga saya lakukan untuk anak saya yang belajar di luar kota. Saya berfikir mungkin ini salah satu cara ikhtiar yang diajarkan ibu kepada saya.

Jeka Reader
Kalau mau lebih komplit seharusnya bukan hanya Tanah dan Air dari 34 provinsi yang dianggap sudah mewakili seluruh wilayah Indonesia.Tapi harus ada air laut dari 11 laut yang mengelilingi wilayah NKRI seperti laut laut : Jawa,Sawu,Maluku,Bali, Flores, Arafuru, Timor, Banda, Halmahera, Seram dan Maluku. Kalau mau lebih komplit lagi perlu diwakili *UDARA* dalam bentuk Balon dari wilayah kedaulatan NKRI, supaya kasus FIR dengan Singapore tidak terulang lagi.

Imau Compo
Tanah di keranjang dan air di kendi menyatu semua gubernur se Indonesia,  minyak goreng dan kedelai memisahkan rakyat dari mereka.

Sin
setuju paragraf terakhir jadi pemimpin apalagi presiden memang perlu belajar dari alat Vital..ini jelas keahlian dari Bli Leong Putu.. 1. akan sangat keras untuk mencapai tujuan, tapi ada saatnya pula mampu menahan diri 2. Tidak menonjolkan diri tapi tampil paling depan saat dibutuhkan 3. Bisa melahirkan generasi penerus yang berkualitas  4. Walaupun menyerang  tapi tetap memberikan kenikmatan kepada lawan 5. Gesekan yang timbul saat melaksanakan tugas dan kewajiban, sebanyak apapun..tetap membahagiakan semua pihak 6. saat tujuan tercapai, kembali mengecilkan diri dan tidak sombong bagaimana caranya biar bisa tahan lama sampai 3 periode..bli Leong punya solusi nya..wkwkwk

Baca Juga :  Teddy Minahasa

Tunk B
tetangga saya namanya Luswanto. Setelah berkelana, ketika pulang minta dipanggil Lussy…

Amat Kaselanovic
Teman saya, namanya Juhairi. Biar keren dipanggil “Jo”. Ada juga, namanya Munawarah. Panggilannya “Mona”.

Muliyanto
teman saya di desa punya nama asli Sumarsono tapi pingin keren minta dipanggil cak Mars. #kesamaan nama cuma kebetulan saja#

Mbah Mars
Teman saya namanya Mardiono. Biar keren minta dipanggil Dion. Wkwkwk

Mbah Mars
Nama Bambang di era 50 an sampai 70an di Jogja memang beken. Sebeken nama Edi, Joko, Budi dan Agus. Kalau perempuan yg kondang Endang, Yayuk, Titik, Sri. Nama-nama tersebut biasanya dipakai anak-anak yg orangtuanya berprofesi sebagai pegawai yg bergaji tetap bulanan. Istilahnya anak2 keluarga priyayi. Biasanya ada nama terusannya seperti Bambang Susantono, Joko Widodo, Sri Mulyani, Yayuk Basuki, Edi Wuryanto dsb. Kalau anak-anak petani biasanya namanya jika laki-laki menggunakan akhiran “di”, “jan” “no” , “mo”, “min”, “ran” ,” jo” dan “man” Contoh: Paidi, Paijan, Paino, Paimo, Paimin, Pairan, Paijo dan Paiman. Kalau wanita berakhiran “nem”, “kem”, “yem”, “nah”, “jah”, “rah”, “lah”, “ni”. Contoh namanya: Painem, Paikem, Paiyem, Painah, Paijah, Pairah, Pailah dan Paini. Nama2 yg hanya terdiri dari satu kata saja. Pendek. Harus nambah dua kata jika membuat paspor. Kini, nama2 di Jogja benar2 sudah tidak mencerminkan anak orang Jawa. Tetangga saya yg lahir saat gempa 2006 dinamakan Salsa Dewi Tektonia. Yg laki2 ada yg diberi nama Muhammad Resonansi. Sebelum era internet, saya sering dimintai tolong memberi nama anak2 kampung saya serta teman2 saya. Sekarang jarang sekali, karena ayah dan ibu bayi sudah bisa memberi nama sendiri dengan mengambilnya dari internet. Ternyata saya adalah korban era disrupsi. Wis ra payu bikin nama.

Gambit H-1982
Catatan Editorial:  # 50 Km = Typo, sudah betul ejaan setelahnya: “30 km”.  # “Danah Dendam Tak Sudah” = Tak ada info tambahan, lalu untuk apa tanda petik penekanannya?  # Gubernur XX–Nama YY–(koma/tanpa koma)–Predikat = Tampak tak konsisten. Opsi kesatu: kaidah keterangan aposisi, apit “jabatan” dan “pejabat”-nya dengan “koma”. Opsi kedua: abaikan kaidah, langsungkan dua Subjek dengan Predikat-nya, tanpa “koma”.  # dari sumur Masjid tertua = Huruf “m”-nya tak perlu kapital.  # di Gowa: Masjid Tua Katangka di Gowa. = Repetisi “di Gowa” mubazir, hapus saja.  # sungai Kayan = Nama diri, penyertanya ikut dibesarkan. Semisal “dataran tinggi Kayan”, “kerajaan Majapahit”, “sumpah Palapa”, “gunung Rinjani”, “kabupaten Kutai”, dan “wakil Menteri PUPR”.  # perbatasan dengan Serawak. = Baiknya ditambah “Malaysia”, sebagai penegas batas wilayah dua negara.  # IKN = Singkatan “Ibu Kota Negara”, yang baru, bukan Jakarta.  # exit = Padanannya “jalan keluar”. Yakni pintu atau gerbang keluar dari jalan bebas hambatan (baca: jalan tol).  # Presiden SBY = Sapaan akrab Suliso Bambang Yudhoyono, Presiden ke-6 Indonesia.  Demikian. Salam Senin. Kerja-kerja-kerja.

Baca Juga :  Protes Omicron

Imsubaweh Subaweh
KN….semar babat karang kedempel jaman crita wayang .sumur pitu ,puserr bumi ,masih kurang satu ‘susuhe angin’,sarang angin. madek mantep ngrogoh sukma… begitu teguh dan kuatnya pendirian untuk suatu tujuan. tp sengkuni2 masih ngompar ngompor sana sini..anda mungkin tau. madep mantep sabda guru pendita ratu. dadi dadi ,guru dadi ,tan ana bebaya tan kena kinira..rawe rawe rantas ,malang malang putung… ooooooooooooonggggggg……

MS
Ada benih-benih kerusuhan di antara perebutan posisi kampak digital, rokok digital, dan pembangkit listrik digital. Mungkin perlu di tambahkan angka supaya posisinya jelas.

Sadewa
Ini saya Cari di Mbah Google, Pindah Rumah menurut adat Jawa: Saat pindahan biasanya kita diminta bawa beberapa benda : tikar, lampu teplok, air, bunga dalam kendi, hingga kuali. Kuali ini tidak boleh kosong, tetapi harus isi dengan beras, bawang merah, bawang putih, cabai, gula, dan garam. (tidak perlu minyak goreng, lagi mahal cuy…) Kuali melambangkan terpenuhinya kebutuhan penghuni rumah. Tidak hanya dalam sektor pangan, tetapi juga sandang dan papan. Lampu teplok adalah simbol dari keberkahan yang akan selalui menerangi jalan penghuni. Air serta bunga dalam kendi melambangkan ketentraman dalam hidup. Bunga juga simbol harapan bahwa nama penghuni akan harum di lingkungannya. Tikar adalah representasi dari keyakinan bahwa segala hal tentu memiliki alas atau dasar yang kuat.

Achmat Rijani Fahmi
Alkisah, di Ruang VIP Kedatangan Bandara Sepinggan, Balikpapan. Siang itu baru saja mendarat Perdana Menteri Singapura. Sesaat setelah masuk ke dalam ruangan, Sang PM memulai statement pembuka di depan wartawan yang mengerubunginya. “Senang sekali saya kembali berkunjung ke negara ini, diundang ke acara hari ini. ohya Saya juga membawa Tanah dari negeri kami, sebagai simbol tanda persahabatan erat antar kedua negara”. seraya mengangkat toples kaca berisi tanah basah butek berwarna kecoklatan.  Mata Wartawan berbinar.  “Tanah ini kami ambil dari Marina Bay Sands, pusat komersial dan hiburan paling terkenal di dunia!”  Wartawan berdecak kagum, sebagian bertepuk tangan. Seorang Jurnalis berkaos kuning mengangkat tangan. sejurus bertanya: “Filosofinya apa mister?”.  “Hmmm its very simple, saya menyebutnya –Dari anda, Untuk anda–” Sahut Perdana Menteri sambil berlalu dan mengedipkan mata.

Komentar