KUPANG – Penumpukan sampah di sejumlah pasar tradisional di Kota Kupang menuai keluhan para pedagang. Kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan dinilai mengganggu aktivitas jual beli serta menurunkan minat pembeli.
Seorang pedagang di Pasar Inpres yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa karena sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) belum juga diangkut. Menurutnya, petugas lebih sering datang untuk menarik retribusi dibanding menangani persoalan kebersihan pasar.
“Sampah sudah berhari-hari tidak diangkut. Petugas datang hanya tarik karcis lalu pulang. Sementara kami terus diminta membayar retribusi,” ucapnya kepada kupangterkini.com

“Sampah menumpuk, baunya menyengat. Pembeli jadi tidak mau datang dan dagangan kami banyak yang rusak,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Pedagang tersebut berharap Pemerintah Kota Kupang segera mengambil langkah tegas dengan memerintahkan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Kota Kupang untuk menyelesaikan persoalan sampah yang dinilai semakin meresahkan.
“Kami mohon perhatian Bapak Wali Kota agar memerintahkan Direktur Perumda Pasar mengurus sampah dengan baik. Jangan hanya fokus menagih retribusi kepada pedagang, sementara kondisi pasar dibiarkan seperti ini,” katanya.
Sementara itu, sejumlah pihak juga meminta Direktur Perumda Pasar Kota Kupang segera mengambil langkah cepat dan solutif dalam mengatasi persoalan kebersihan pasar.
Perumda dinilai tidak boleh hanya berfokus pada penarikan retribusi, tetapi juga harus memastikan pelayanan dasar, termasuk pengelolaan sampah, berjalan dengan baik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penumpukan sampah tidak hanya terjadi di Pasar Inpres, tetapi juga terjadi secara bersamaan di tiga pasar di Kota Kupang.
Kondisi tersebut membutuhkan penanganan segera agar tidak berdampak pada kesehatan, kenyamanan pengunjung, serta aktivitas ekonomi para pedagang.
laporan : yandry imelson
