Penjaringan Kepala Desa Oesao di Dusun II Diduga Sarat Rekayasa

OELAMASI — Suasana memanas pasca penjaringan calon Kepala Desa di Dusun 2, Oesao yang berujung pada saling tuding dan tuntutan pembatalan hasil. Polemik ini mencuat setelah Meksi Manafe, pihak yang kalah dalam perolehan suara menuding adanya rekayasa, penyelewengan surat suara, dan konflik kepentingan yang merusak netralitas panitia pelaksana.

Menurut Meksi yang ditemui kupangterkini.com Minggu (23/8/26) kejanggalan sudah terlihat sejak awal proses. Surat suara tiba-tiba berkurang sekitar 22 lembar, dan diduga kuat ada penyelewengan yang dilakukan panitia sendiri. “Yang lebih mencolok, BT kakak kandung calon nomor urut 1 FT tercatat sebagai anggota panitia, sementara Ketua Panitia Oscar Lape diketahui adalah keluarga FT,” ucap Meksi.

Lanjutnya, total 9 orang panitia dan adanya kerabat dekat calon duduk langsung di barisan panitia dinilai jelas melanggar prinsip netralitas dan memicu dugaan konflik kepentingan yang nyata. “Ini bisa jadi konflik kepentingan, saya tentu dirugikan,” tambahnya.

Proses penghitungan suara pun berlangsung penuh ketegangan. Meksi menceritakan, saat hasil akan diumumkanseorang panitia R tiba-tiba meminta pengumuman dihentikan dan menuntut pembatalan hasil, dengan alasan melihat BT bermain surat suara. Namun tuntutan itu ditolak lantaran tidak dapat dibuktikan secara langsung maupun melalui bukti visual.

Menanggapi berbagai tudingan tersebut, Ketua Panitia, Oscar Lape memberikan tanggapan tegas. Ia mengakui adanya protes dan keberatan tersebut namun hal tersebut tak bisa dibuktikan.

“Tuduhan rekayasa dan penggelapan surat suara itu tidak bisa dibuktikan di tempat dan hanya omon-omon. Kecuali ada yang menangkap langsung atau ada bukti visual, proses yang sudah berjalan tetap sah. Hasil pemilihan tidak bisa dibatalkan begitu saja tanpa bukti yang sah dan nyata,” ucap Oscar ketika dikonfirmasi.

Oscar juga menilai tuduhan itu baru muncul setelah hasil diketahui dan pihak yang kalah merasa tidak menerima. Selisih satu surat suara yang kosong, menurutnya, adalah hal yang manusiawi dan wajar terjadi dalam proses penghitungan, bukan indikasi rekayasa.

“Keberatan dan tuduhan kejanggalan tersebut sudah disampaikan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk ditindaklanjuti dan besok kami akan bertemu dengan pihak BPD. Tetapi proses pemilihan tetap berjalan sesuai aturan, kita tetap pada hasil pemilihan,” tandasnya.

Oscar pun menuding tuduhan yang dilayangkan Meksi tersebut baru muncul setelah hasil diumumkan dan pihak yang kalah merasa tidak terima. Ia menduga adanya upaya konspirasi untuk membatalkan hasil lantaran kalah dalam perolehan suara.

laporan : yandry imelson